Jihad tidak selalu identik dengan perang, karena Jihad bermakna luas yang artinya memperbaiki sesuatu. Jihad tergantung konteks. Bisa dibidang pendidikan, kesehatan,perekonomian,perang dan lain-lain.
Dibalik banyaknya bukti pemalsuan ayat-ayat Al-Quran yang dituduhkan ormas Islam umumnya pada Ahmadiyah, dimana Mirza membuat Kitab Tadzkirah, di artikel ini akan dibahas satu sisi saja dari Ahmadiyah yang berkenaan dengan Jihad. Sebagai organisasi yang mengklaim anti Jihad (konteks perang) sehingga dengan statement ini menjadikan mereka gerakan Islam yang menilai dirinya sangat anti kekerasan. Hal ini sangat menarik karena kedamaian dan kesejahteraan merupakan konsep Rahmatan Lil Alamiin (Rahmat Semesta Alam) dari Islam. Dan inilah cita-cita semua Muslim.
Banyak catatan yang mengatakan Mirza menolak berjihad melawan Inggris dan malah menyuruh muslimin saat itu untuk tunduk pada pemerintah Inggris. Ada beberapa pendapat mengatakan bahwa Mirza tidak berjihad melawan Inggris karena Inggris tidak melakukan kekuatan senjata dalam menduduki India dan Muslim. Bahkan Inggris berbuat baik pada Muslim disana saat itu. Sehingga Jihad dengan kekerasan tidak perlu. Yang diperlukan Jihad dengan cara intelektual. Jadi jika Inggris tidak memaksakan dengan senjata apakah sudah diwajibkan untuk Jihad?. Itulah yang mendasari sikap anti Jihad Mirza.
Jika itu benar maka kemungkinan Mirza hidup di masa ketika pemerintahan Inggris telah mapan di India. Dimana tak ada gejolak fisik semacam pemberontakan yang hebat. Mirza hidup dari tahun 1835 s/d 1908. Masa sebelum Mirza lahir merupakan masa yang penuh peperangan dengan Inggris di India. Perang kemerdekaan pertama tahun 1857. Saat itu Mirza berusia sekitar 22 tahun dimana dia masih belum mengaku sebagai siapa-siapa. Selang waktu 1857 s/d 1947 merupakan masa yang bergolak bagi India untuk merdeka. Dan kemerdekaan India tidak diraih dengan cuma-cuma. Jadi tentu alasan Mirza untuk menghilangkan konsep Jihad secara fisik tidak tepat. Karena Inggris dimata orang India secara umum memang penuh dengan kekuatan senjata.
Menurut perkiraan, ketika India dalam gerakan kemerdekaan Jumlah Rakyat India 300 Juta, sedangkan Inggris cuma 100ribu (termasuk tentara lokal). Bagaimana mungkin 300juta takluk ama 100 ribu,…ini terjadi kalo Ingris sangat represif.
Gandi sadar perjuangan senjata hanya akan menimbulkan banyak korban, makanya memilih perjuangan tanpa kekerasan. Kalau di Palestina ada intifada (cuma pake batu).
Jadi Mirza sadar betul bahwa Jihad terlalu beresiko, maka bekerja dengan pemerintah Inggris akan lebih menguntungkan.
boleh dibilang secara konteks, ini adalah selemah-lemahnya Iman (pasrah) dan mungkin termasuk muslim di belahan dunia lain. Bedanya Mirza secara berani menyunat Ayat Allah dengan mengeluarkan firman palsu bahwa Jihad sudah tidak diperlukan.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa Ahmadiyah mencuri kesempatan. Ibarat pepatah : “Ingin makan nangka tetapi tidak ingin terkena getahnya”. Alasan ini diberikan pada Ahmadiyah karena mereka juga bersyahadat “Mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan nabi Muhammad sebagai utusan Allah” dan mengaku kitabnya Al-Quran, tetapi mereka tidak mau ikut menanggung beban perjuangan awal Islam ditegakkan.
Islam lahir dengan berbagai peristiwa besar yang mempengaruhinya. Islam lahir dari darah para syuhada yang dengan gigih mempertahankan sebuah ideologi akan konsep hidup yang lebih diharapkan oleh Allah. Bagaimanapun Konsep Jihad sangat besar pengaruhnya dalam pertumbuhan Islam.
Kalau kita menoleh ke kisah hidup para nabi, tak satu pun dari para nabi itu yang tidak luput dari konsep Jihad. Misalnya kisah nabi Ibrahim, Musa, Daud, Yesaya bahkan Isa, semuanya menjunjung konsep ini. Negara tidak akan kuat tanpa tentara dan tentara inilah suatu Jihad yang bersifat defensif.
Sepeninggal Rasul ada 2 kejadian penuh drama dan berdarah-darah dalam sejarah umat Islam, yaitu adanya Perang Salib dan Serangan Mongol. Apa yang akan terjadi sekiranya tidak Ada Shalahudin Al-Ayubi atau Qutuz, tentu Islam sudah habis dimasa itu, dan Kiamat sudah didepan mata sekarang. Apakah seupama Shalahudin Al Ayubi dan Qutuz tidak berjihad, Ahmadiyah bisa berdiri sekarang?.
Artikel ini dibuat bukan untuk menyuruh para Muslim menjadi Fundamentalis apalagi teroris, artikel ini dibuat untuk menyadarkan mereka agar tidak mempolitisasi atau mengkapitalisasi Islam untuk kepentingan keluarga mereka atau golongan mereka sendiri dengan menjual ayat-ayat Allah bahkan menghapuskan apa yang pernah Rasul jalani semisal Jihad, dengan mengeluarkan statement Jihad sudah tidak diperlukan, padahal dari Jihad itulah Islam kokoh dari badai para Musuh Islam. Berjihad dengan makna lebih luas agar Islam sebagai Rahmat Semesta Alam bisa terwujud, bukannya mendiskriditkan Jihad Rasul dan membuat haluan Islam baru seolah-olah mendapat rezeki nomplok.
SIAPA NABI TERAKHIR BACA DISINI (KLIK)

