Tampilkan postingan dengan label Agama Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama Umum. Tampilkan semua postingan

0 Alasan Mirza Ghulam Ahmad (Ahmadiyah) Menolak Jihad


Jihad tidak selalu identik dengan perang, karena Jihad bermakna luas yang artinya memperbaiki sesuatu. Jihad tergantung konteks. Bisa dibidang pendidikan, kesehatan,perekonomian,perang dan lain-lain.
Dibalik banyaknya bukti pemalsuan ayat-ayat Al-Quran yang dituduhkan ormas Islam umumnya pada Ahmadiyah, dimana Mirza membuat Kitab Tadzkirah, di artikel ini akan dibahas satu sisi saja dari Ahmadiyah yang berkenaan dengan Jihad. Sebagai organisasi yang mengklaim anti Jihad (konteks perang) sehingga dengan statement ini menjadikan mereka gerakan Islam yang menilai dirinya sangat anti kekerasan. Hal ini sangat menarik karena kedamaian dan kesejahteraan merupakan konsep Rahmatan Lil Alamiin (Rahmat Semesta Alam) dari Islam. Dan inilah cita-cita semua Muslim.

Banyak catatan yang mengatakan Mirza menolak berjihad melawan Inggris dan malah menyuruh muslimin saat itu untuk tunduk pada pemerintah Inggris. Ada beberapa pendapat mengatakan bahwa Mirza tidak berjihad melawan Inggris karena Inggris tidak melakukan kekuatan senjata dalam menduduki India dan Muslim. Bahkan Inggris berbuat baik pada Muslim disana saat itu. Sehingga Jihad dengan kekerasan tidak perlu. Yang diperlukan Jihad dengan cara intelektual. Jadi jika Inggris tidak memaksakan dengan senjata apakah sudah diwajibkan untuk Jihad?. Itulah yang mendasari sikap anti Jihad Mirza.

Jika itu benar maka kemungkinan Mirza hidup di masa ketika pemerintahan Inggris telah mapan di India. Dimana tak ada gejolak fisik semacam pemberontakan yang hebat. Mirza hidup dari tahun 1835 s/d 1908. Masa sebelum Mirza lahir merupakan masa yang penuh peperangan dengan Inggris di India. Perang kemerdekaan pertama tahun 1857. Saat itu Mirza berusia sekitar 22 tahun dimana dia masih belum mengaku sebagai siapa-siapa. Selang waktu 1857 s/d 1947 merupakan masa yang bergolak bagi India untuk merdeka. Dan kemerdekaan India tidak diraih dengan cuma-cuma. Jadi tentu alasan Mirza untuk menghilangkan konsep Jihad secara fisik tidak tepat. Karena Inggris dimata orang India secara umum memang penuh dengan kekuatan senjata.

Menurut perkiraan, ketika India dalam gerakan kemerdekaan Jumlah Rakyat India 300 Juta, sedangkan Inggris cuma 100ribu (termasuk tentara lokal). Bagaimana mungkin 300juta takluk ama 100 ribu,…ini terjadi kalo Ingris sangat represif.

Gandi sadar perjuangan senjata hanya akan menimbulkan banyak korban, makanya memilih perjuangan tanpa kekerasan. Kalau di Palestina ada intifada (cuma pake batu).

Jadi Mirza sadar betul bahwa Jihad terlalu beresiko, maka bekerja dengan pemerintah Inggris akan lebih menguntungkan.

boleh dibilang secara konteks, ini adalah selemah-lemahnya Iman (pasrah) dan mungkin termasuk muslim di belahan dunia lain. Bedanya Mirza secara berani menyunat Ayat Allah dengan mengeluarkan firman palsu bahwa Jihad sudah tidak diperlukan.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa Ahmadiyah mencuri kesempatan. Ibarat pepatah : “Ingin makan nangka tetapi tidak ingin terkena getahnya”. Alasan ini diberikan pada Ahmadiyah karena mereka juga bersyahadat “Mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan nabi Muhammad sebagai utusan Allah” dan mengaku kitabnya Al-Quran, tetapi mereka tidak mau ikut menanggung beban perjuangan awal Islam ditegakkan.

Islam lahir dengan berbagai peristiwa besar yang mempengaruhinya. Islam lahir dari darah para syuhada yang dengan gigih mempertahankan sebuah ideologi akan konsep hidup yang lebih diharapkan oleh Allah. Bagaimanapun Konsep Jihad sangat besar pengaruhnya dalam pertumbuhan Islam.

Kalau kita menoleh ke kisah hidup para nabi, tak satu pun dari para nabi itu yang tidak luput dari konsep Jihad. Misalnya kisah nabi Ibrahim, Musa, Daud, Yesaya bahkan Isa, semuanya menjunjung konsep ini. Negara tidak akan kuat tanpa tentara dan tentara inilah suatu Jihad yang bersifat defensif.

Sepeninggal Rasul ada 2 kejadian penuh drama dan berdarah-darah dalam sejarah umat Islam, yaitu adanya Perang Salib dan Serangan Mongol. Apa yang akan terjadi sekiranya tidak Ada Shalahudin Al-Ayubi atau Qutuz, tentu Islam sudah habis dimasa itu, dan Kiamat sudah didepan mata sekarang. Apakah seupama Shalahudin Al Ayubi dan Qutuz tidak berjihad, Ahmadiyah bisa berdiri sekarang?.

Artikel ini dibuat bukan untuk menyuruh para Muslim menjadi Fundamentalis apalagi teroris, artikel ini dibuat untuk menyadarkan mereka agar tidak mempolitisasi atau mengkapitalisasi Islam untuk kepentingan keluarga mereka atau golongan mereka sendiri dengan menjual ayat-ayat Allah bahkan menghapuskan apa yang pernah Rasul jalani semisal Jihad, dengan mengeluarkan statement Jihad sudah tidak diperlukan, padahal dari Jihad itulah Islam kokoh dari badai para Musuh Islam. Berjihad dengan makna lebih luas agar Islam sebagai Rahmat Semesta Alam bisa terwujud, bukannya mendiskriditkan Jihad Rasul dan membuat haluan Islam baru seolah-olah mendapat rezeki nomplok.

SIAPA NABI TERAKHIR BACA DISINI (KLIK)

0 Talmud Hitam : Ibu Yesus Pelacur, Yesus Direbus Di Tinja Panas?

 

Talmud Hitam merupakan Kitab Orang Yahudi yang boleh dibilang melenceng dari Taurat.

PENGHINAAN TERHADAP YESUS (NABI ISA)  DAN MARIA

Sanhedrin 106a : Mengatakan ibu Yesus adalah pelacur. Dia yang merupakan anak keturunan Gubernur dan Pangeran memainkan Pelacur dengan tukang kayu. Di catatan kaki #2  Shabbath 104b dalam teks “uncencored” dikatakan bahwa “Miriam penata rambut, berhubungan seks dengan banyak lelaki”.
Sanhedrin 43a : Yesus adalah sang Penyihir.
Gittin 57a : Yesus sedang direbus dalam Kotoran Panas
Sanhedrin 43a : Yesus layak dieksekusi
Shabbath 116a (p. 569) : Yahudi harus menghancurkan buku Kristen termasuk Perjanjian Baru. Catatan kaki #6. Israel Shahak melaporkan bahwa Zionis membakar ratusan buku Perjanjian Baru dalam pendudukan Paestina tanggal 23 Maret 1980 (cf. Jewish History, Jewish Religion, p. 21).

Ayat-ayat lainnya yang terkesan sangat melenceng

Baba Mezia 24a : Yahudi dapat mencuri dari non Yahudi. Jika Yahudi menemukan benda milik Kafir yang hilang tidak harus dikembalikan.
Sanherdin 57a : Yahudi dapat merampok dan membunuh Non Yahudi. Jika Yahudi membunuh Kafir tidak ada hukuman mati. Yahudi dapat menyimpan barang yang dicuri dari Kafir.
Baba Kamma 113a : Yahudi boleh berbohong pada non Yahudi
Yebamoth 98a : Anak non Yahudi adalah setengah manusia, alias binatang
Abodah Zarah 36b : Gadis Kafir kotor sejak lahir
Erubin 21b :  Barang siapa mendurhakai nabi berhak mati dan akan dihukum dengan direbus dalam kotoran panas di neraka.
Moet Kattan 17a : Jika seorang Yahudi tergoda untuk melakukan  sesuatu yang jahat dia harus pergi ke sebuah kota dimana ia tidak dikenal dan melakukan kejahatan disana.
Baba Mezia 114a-b :  Bukan Yahudi berarti bukan manusia. Hanya Yahudi yang manusia.
Kerithoth 6b (dibawah kepala sub “minyak urapan”) & Berakoth 58a : Wanita kafir sebagai binatang (keledai)
Sanherdin 58b : Jika Kafir memukul Yahudi harus dibunuh. Memukul Yahudi berarti memukul Tuhan
Sanherdin 57a: Mencurangi Non Yahudi tidak apa-apa

0 Holocaust Hanyalah Propaganda Yahudi?

 

Ahli sejarah Inggris, David Irving; peneliti Prancis, Robert Faurisson; ilmuwan Jerman, Fredrick Toeben; juga yang lain pernah merasakan kuatnya pemimpin Eropa dalam membangun mitos holocaust. Sebagian ahli ini terpaksa mendekam beberapa saat di penjara karena penolakannya terhadap keberadaan sejarah holocaust.

Ya, Holocaust merupakan sebuah hal yang menjadi perdebatan apakah ini mitos atau hanya karangan Yahudi yang ingin mendapat simpati Barat agar mendapat Tanah di Palestina. Karena jika ini benar terjadi, ternyata mereka (Israel) sedang mempraktekkan kembali kisah Holocaust kepada rakyat Palestina dimana yang terakhir dengan mengisolasi Gaza dan melarang bantuan asing datang?.

Membahas tentang Holocaust merupakan sebuah hal yang menarik. Karena darimana Yahudi mendapatkan ide tentang kisah ini?. Mari kita simak apa yang ada di dalam pikiran mereka.

Dalam Talmud (Gittin 57b) Yahudi mengklaim bahwa 4 milyar orang Yahudi dibunuh oleh orang Romawi di kota Bethar. Dalam Gittin 58a Yahudi mengklaim 16 juta anak-anak Yahudi dibungkus gulungan dan dibakar hidup-hidup oleh Romawi. Demografi kuno menunjukkan bahwa tidak ada 16 juta orang Yahudi di seluruh dunia saat itu apalagi 4 milyar Yahudi.

Di Purim, pada tanggal 25 Februari 1994, perwira tentara Israel Baruch Goldstein, seorang Khazar ortodoks dari Brooklyn membantai 40 warga Palestina termasuk anak-anak padahal mereka sedang berlutut dalam do’a di Masjid. Goldstein adalah seorang murid dari Rabi Kahane yang telah menyatakan pandangannya tentang orang Arab sebagai “Anjing” (CF CBS 60 Minutes “Kahane”).

Prof. Ehud Sprinzak  dari Universitas Yerusalem menjelaskan filosofi  Kahane and Goldstein sebagai berikut :  “Mereka percaya itu adalah kehendak Allah bahwa Yahudi harus melakukan kekeraan terhadap Goyim (Non Yahudi), sebuah terminologi Yahudi terhadap non Yahudi (NY Daily News, Feb. 26, 1994, p. 5). Apalagi setelah Rabi Yitzhak Ginsburg mengatakan : “Darah Yahudi dan non Yahudi tidaklah sama (NY Times, June 6, 1989, p.5). Rabi Yaacov Perrin mengatakan :”Satu juta orang Arab tidak lebih hanya seujung kuku Yahudi” (NY Daily News, Feb. 28, 1994, p.6). 

Setiap tahun Israel ambil bagian dalam Ziarah nasional ke kuburan Simon ben Yohai, untuk menghormati Rabi ini yang menganjurkan pemusnahan non Yahudi (Jewish Press of June 9, 1989, p. 56B).

Jadi apakah benar Holocaust itu benar-benar dilakukan Nazi Hitler?. Atau kah kisah ini sebenarnya kisah kekejaman Yahudi yang tersembunyi dan digunakan untuk mendiskriditkan bangsa lain?.

0 Perlukah Test Psikologi Untuk Memeluk Agama?

Sepanjang sejarah hidup manusia selalu ada tindak kekerasan antar umat manusia mulai dari kerusuhan kecil hingga perang besar. Terkadang hal itu mengatasnamakan agama. Padahal agama itu sejatinya harus dipakai sebagai “Rahmat Semesta Alam”. Diakui atau tidak dalam beberapa agama ada ayat-ayat tentang peperangan, tetapi tentu saja ayat-ayat itu berisi ajakan memerangi kesewenang-wenangan dan penindasan.

Tetapi terkadang ada suatu kekerasan yang mana terjadi tidak pada tempatnya yang sering kita dengar dengan istilah terorisme (baik individual, kelompok atau kenegaraan). Dan dalam definisi teror ini aku bagi dalam dua definisi yang berbeda. Pertama adalah teror non Fiksi. Dalam teror ini pelaku teror sudah tahu bahwa yang dilakukannya adalah salah dan perbuatannya adalah suatu kejahatan. Kedua adalah teror Fiksi, dimana pelaku teror menganggap yang dilakukannya adalah benar dan perbuatannya adalah untuk Tuhan. Misalnya dalam perang Salib, baik pihak Kristen atau Islam pasti sama-sama mengklaim yang dilakukannya adalah kebenaran.

JWB

Nah definisi yang kedua inilah (Fiksi) yang kadang menjadi sebuah dilema, apalagi jika dihubung-hubungkan dengan konteks agama. Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa dalam kitab suci suatu agama itu ada ayat-ayat yang keras (peperangan) tetapi konteksnya untuk memerangi keangkaramurkaan dan kezaliman. Yang mana ujung-ujungnya dari ayat diatas adalah menciptakan keamanan dengan melindungi kaum yang lemah sehingga tercipta rahmat semesta alam.

Diakui atau tidak hal ini terjadi karena ada faktor kejiwaan dalam pemeluk agama tersebut. Kita pasti tahu tentang sebutan “psikopat”. Dimana seorang yang menderita psikopat itu biasanya kelihatan baik & ramah. Orang yang menderita psikopat mungkin identik dengan kefanatikan, tetapi mungkin agak beda secara prinsip, dimana seorang fanatik bisa membedakan wilayah-wilayah yang boleh dilakukan dan tidak (dalam kekerasan). Sedangkan seorang psikopat kadang sudah tidak bisa membedakan antara boleh dan tidak (dalam kekerasan) dan cenderung untuk merusak. Dan perlu diketahui bahwa dalam kantor tempat kita bekerja sebenarnya banyak yang menderita psikopat dalam berbagai tingkatnya (menurut beberapa survey). Jadi coba anda bayangkan sendiri jika seorang psikopat memahami ayat-ayat peperangan (keras) tanpa penafsiran yang memadai, tentu yang ada cuma penghancuran dunia atas nama agama.

Ketika agama dipakai untuk kekerasan yang tidak pada tempatnya itulah maka agama telah dinodai. Ajaran yang agung menjadi terkesan menyeramkan. Agama yang seharusnya menjadi rahmat semsesta alam telah menjadi agama monster.

Bukan hanya kekerasan yang juga kita bahas disini, tetapi juga “Srigalanisme domba agama”. Apa maksudnya?. Maksudnya adalah melakukan tindakan merekrut orang untuk memeluk agama tetapi dengan penyogokan. Orang dicekoki materi, harta dan kebutuhan lainnya agar dia mau memeluk agama tertentu. Jika ini yang terjadi maka hanya akan memunculkan Agama Perut tanpa akal.

Yang lebih parah lagi adalah melakukan kebohongan publik tentang agama lain agar orang mau memeluk agamanya. Agama lain diopinikan sebagai agama yang kejam, rendah, bodoh tanpa argumen yang kuat agar orang meinggalkan agama tersebut dan ganti memeluk agama lain.

Dari pernyataan diatas, perlukah dilakukan test psikotest untuk memeluk sebuah agama, sehingga kemurnian dan keagungan agama tetap terjaga?. Jika perlu dilakukan test psikotest mungkin hasilnya banyak dari kita-kita ini yang belum berhak memiliki sebuah agama.

0 Penguburan Tersadis Di Dunia

Di dunia ini ada beberapa tipe pemakaman, misalnya : Mumifikasi (dimumikan), Pembakaran mayat (kremasi), Dan umumnya dikubur di dalam tanah. Tetapi ada bentuk pemakaman lain yang mengerikan yaitu “Sky Burial” yang mana masih diperlakukan di Tibet meski tidak banyak.

Adalah sebuah sekte dari agama di Tibet  terutama yang  masih percaya akan reinkarnasi, masih melakukan ritual pemakaman sky burial.  Metode penguburan mayat ini tidak berlaku untuk sembarang mayat. Ritual ini tidak untuk orang yang pada waktu mati belum berusia 18 tahun, atau bagi wanita hamil yang meninggal atau orang-orang yang meninggal karena penyakit menular dan berbahaya. 

Pada dasarnya, selain dikubur  layaknya di belahan bumi manapun, di Tibet khususnya, masih ada tiga jenis pemakaman, yaitu : dipersembahkan kepada laut (water burial,  yaitu metode penguburan dimana mayat di berikan kepada ikan-ikan untuk jadi santapan sang ikan di laut), yang kedua adalah : dikremasi dan  yang terakhir adalah sky burial ini, yaitu metode penguburan mayat dimana tubuh mayat dipersembahkan kepada vultures atau burung bangkai.

Dipercaya bahwa sky burial akan lebih mempercepat roh si mati untuk naik ke nirvana .  Perjalanan akan jauh lebih cepat dengan bantuan burung vultures. Yang dalam bahasa Tibet disebut “Dakinis”  atau terjemahannya adalah “sky dancer’ yang berarti  “angel”.

Kelompok  penganut agama ini percaya bahwa tubuh manusia yang sudah meninggal adalah hanya sebagai ” vessel atau wadag” saja, artinya sudah tidak ada maknanya, dan sesuai dengan ajaran agama mereka yang berdasar “memberi” maka dengan dipersempahkan wadag ini kepada burung, akan membantu makhluk lemah yang perlu survive untuk hidup,  dalam hal ini  memberi makan vultures dengan potongan daging berasal dari jazad yang meninggal juga merupakan simbol suci agama tersebut (dakinis)

Dalam proses Sky Burial jasad manusia yang mati di potong-potong dan dipisahkan antara tulang dan daging. Tulang yang tersisa dipecah menjadi bagian kecil untuk dimakan oleh burung lain yang lebih kecil  seperti gagak atau Rajawali. 

Biasanya bagian tubuh yang dibawa pulang adalah rambut, yang terkadang mereka juga menyimpannya di kuil. Tak jarang ada yang membawa pulang tengkorak kepala yang sudah dipecahkan untuk tempat minum teh.

FOTO-FOTO DIBAWAH MERUPAKAN CONTOH DARI PROSES DIATAS :

0 Hubungan Mental Dengan Keimanan Dan Agama

Ada sebuah pemikiran apakah keimanan itu menyangkut aspek jiwa atau tubuh atau keduanya. Apakah seseorang yang memiliki kecerdasan religi berasal dari pikiran (tubuh) atau jiwa (ruh) atau keduanya. Ada sebuah pemisalan :
  1. A adalah orang yang pandai di bidang agama
  2. B adalah orang yang pandai di bidang fisika
Jika sekiranya ruh si A berpindah ke ruh si B, apakah si B akan menjadi ahli di bidang agama dan sebaliknya si A akan menjadi orang yang pandai Fisika?. 

ATAU 

Jika sekiranya ruh si A berpindah ke ruh si B, apakah si B akan tetap menjadi ahli di bidang Fisika dan sebaliknya si A juga tetap menjadi ahli di bidang agama? 

Untuk membahas hal diatas ada sebuah keilmuan yang dinamakan Dianetics. Dianetics merupakan seperangkat ide dan praktek terhadap hubungan metafisis antara pikiran dan tubuh. Dianetic diperkenalkan oleh ilmuwan L. Ron Hubbard yang dipraktekkan oleh para ilmuwan. Dianetic berasal dari bahasa Yunani “Dia (melalui) dan “Nous (pikiran).

Dianetics mengeksplorasi keberadaan dari pikiran menjadi 3 bagian :
  1. Anaytical Mind (Kesadaran)
  2. Reactive Mind (Bawah Sadar)
  3. Somatic Mind
Tujuan Dianetic yaitu menggerakkan “Reactive Mind” dimana para ilmuwan percaya hal itu dapat membantu manusia supaya lebih beretika, lebih punya kesadaran dan kebahagiaan. Karena di bagian “Reactive Mind” inilah pengalaman tentang “shock, trauma dan pengalaman menyakitkan lainnya” berada. Tempat ini disebut “Engram”. Dan Dianetic ditujukan untuk menghilangkan “Engram” menjadi “Clear”. Seorang Clear adalah seseorang yang diajar untuk tidak lama menyimpan “Reactive Mind” miliknya. Untuk mencapainya Dianetic mempunyai prosedur yang disebut “AUDITING”.


Auditing merupakan sebuah proses dimana sebuah pertanyaan berseri ditanyakan oleh ilmuan auditor, dalam usaha untuk menghilangkan pihak yang diinterogasi dari pengalaman menyakitkan di masa lalu, dimana para ilmuwan percaya bahwa pengalaman itu merupakan penyebab dari “Reactive Mind”. 

Dianetics mengklaim bahwa banyaknya “Engram” merupakan penyebab masalah fisik dan jiwa. Dalam bukunya (1950) “ Dianetics: The Modern Science of Mental Health, Hubbard mendiskripsikan teknik-teknik yang dia sarankan dapat menyembuhkan individu-individu dari rasa takut dan kesakitan psychosomatic (Sakit Jiwa). 

Dalam hubungannya dengan agama kita mengetahui begitu banyak orang-orang yang menderita sakit jiwa dalam artian mengalami kegelisahan mendalam yang bisa berlangsung tahunan hanya untuk mencari hakiki hidup dari hidup ini. Banyak orang yang setelah mendapatkan pencerahan di bidang religi merasakan bahwa jiwanya mulai tenang dan sakit yang selama ini dialami sebagai beban mencari pencerahan akhirnya tersembuhkan. Sebelum mendapat pencerahan banyak cara dilakukan oleh masing-masing individu. Dari mulai menyiksa diri (membuat tubuh menderita) seperti si Dharta Gautama yang sebelum mendapat pencerahan harus tidak makan berhari-hari (puasa ekstrim) meski hal ini tidak diteruskan karena tak membawanya mendekati kebijaksanaan atau dilakukan dengan cara sering memikirkan hakekat hidup di tempat-tempat yang sepi seperti yang dilakukan Nabi Muhammad. 

Jika “Reactive Mind” dalam Dianetics disebut sebagai tempat berkumpulnya pengalaman atau memory negatif, maka sebenarnya pengalaman yang positif pun juga berada disana. Sebagai tempat dimana alam bawah sadar terdapat, apakah ilmu religi yang merupakan dasar keimanan dari para agamawan yang pandai agama bermukim disini juga?. Kita semua menyadari bahwa mungkin baru beberapa persen saja hakikat tentang agama khususnya Tuhan yang baru diketahui dalam alam “Analytical Mind” dan selebihnya berada dalam alam “Reactive Mind”.

Sebuah pertanyaan lain yang mendasar adalah apakah yang ada dipikiran kita dan jiwa kita sesuai dengan yang ada di ruh kita. Dalam artian ketika kita mati dan ruh kita keluar dari jasad kita masihkah kita bisa berfikir sedangkan tempat berfikir adalah otak?. Dan apakah pengetahuan ini akan turut terbawa ketika ruh kita tidak menyatu lagi dengan tubuh?.

Di agama Abrahamik mengatakan bahwa kita di akhirat (surga/neraka) berjasad bukannya tak berjasad seperti halnya para malaikat. Hal ini bisa kita jadikan pemikiran bahwa religiusitas memerlukan tempatnya yang berupa jasad tubuh. Hal ini bisa kita amati di dunia bahwa orang-orang yang melarat atau fakir miskin dan orang kaya bisa mengalami kekufuran dan kekufuran condong ke kafiran. 

Seseorang yang memiliki pengalaman pahit dan kegetiran hidup jika tidak mendapat pertolongan baik berupa medis serta ekonomi dan hal-hal yang bisa membahagiakan lainnya akan memandang hidup ini menyempit dan bisa menjadikan hati ini sadis dalam menyingkapi hidup ini. Dimana jalan hitam akan lebih mudah ditempuh yang pada akhirnya nilai-nilai ilahi akan dipinggirkan.

Dalam agama kewahyuan dimana percaya bahwa Tuhan memberikan wahyu kepada para utusan, maka wahyu tersebut tidaklah akan berubah meski si penerima mengalami transisi Jasmani dari A ke B. Karena Wahyu merupakan sisi ketiga dari sisi manusia (para nabi). Bahwa para nabi memiliki 3 sisi yaitu : Jiwa, Tubuh dan Wahyu. Dimana kemungkinan jika si A pindah ke si B wahyu dari A akan di inject ke B oleh Tuhan. Sedangkan manusia biasa hanya mempunyai 2 sisi yaitu jiwa dan tubuh.

Sedangkan agama yang dicari dengan cara pemikiran mendalam untuk mencari pencerahan tanpa mendapat wahyu langsung maka yang terjadi adalah seseorang akan mengalami pola pikir yang berbeda saat mengalami transisi jasmani dari A ke B karena menggunakan tubuh fisik yang berbeda dan mereka hanya memiliki 2 sisi yaitu : Jiwa dan Tubuh.

Jadi Dianetics dalam hubungannya dengan agama bisa kita asumsikan sebagai gerakan untuk membuat manusia lebih bahagia dengan cara merubah pikiran bawah sadar ke arah yang lebih baik dimana mental yang sehat akan membawa jiwa dan tubuh yang sehat. Hanya ini yang menjadi tujuan dari Dianetics. Dan kemungkinan mereka tidak memandang konsep Tuhan, Surga atau neraka sekalipun karena Dianetic lebih berfokus membuat hidup yang lebih bahagia tanpa memandang itu.

Sedangkan dalam Agama menganggap bahwa kebahagiaan itu sesuatu yang dituntunkan Tuhan untuk dunia agar bisa mencapai kebahagiaan untuk akhirat. Kebahagiaan dicapai di dunia jika manusia bisa melakukan kehendak Tuhan dengan baik dengan usaha. Jadi ada usaha ke arah religi bukan semata materi.

0 Macam-macam Agama Yang Ada Di Dunia (Agama-agama Besar)

Menurut ahli agama Dr Zakir Naik, agama-agama di dunia dapat digolongkan secara umum dalam dua kategori yaitu SEMIT dan NON-SEMIT. Dimana agama NON-SEMIT masih dibagi menjadi agama ARYA dan NON ARYA

AGAMA SEMIT

Agama Semit merupakan agama yang berasal dari rumpun Semit. Menurut Bible kaum Semit merupakan keturunan Nabi Nuh dari garis Shem (salah satu anak nabi Nuh). Jadi bisa dikatakan bahwa Agama Semit berasal dari antara Yahudi, Arab, Assyria, Funisia dan sejenisnya. Agama kaum Semit yang paling besar meliputi Yahudi, Kristen dan Islam. Dimana agama-agama ini (Yahudi,Kristen dan Islam) merupakan agama kenabian yang percaya bahwa Petunjuk Ilahi dikirim melalui para nabi Tuhan.

AGAMA ARYA

Agama Arya adalah agama yang berasal diantara rumpun Arya, sebuah kelompok yang kuat dari masyarakat yang berbahasa Indo-Eropa yang berkembang melalui Iran dan Selatan India pada pertengahan awal Milenium kedua SM (2000 s/d 1500 SM)

Agama Arya dibagi lagi menjadi agama Vedic dan Non Vedic. Agama Vedic meliputi : Hindhu atau Brahmanisme , dan agama Non-Vedic meliputi : Sikh, Budha, Jainisme dan sejenisnya.


Mungkin sebgaian besar kita menganggap agama Arya sebagai agama tak bernabi, mungkin ini perlu diluruskan karena pemahaman mengenai nabi bagi mereka mungkin agak berbeda. Di Hindhu ada istilah Avtar, dan di Budha ada istilah Maitreya. Baik Avtar maupun Maitreya bisa kita golongkan sebagai nabi juga karena mereka juga percaya akan adanya Kalky Avtar atau Budha Maitreya sebagai utusan terakhir. Demikian juga dengan agama Zoroaster yang mana juga menganggap Zoroaster sebagai nabi mereka dan percaya akan adanya utusan terakhir yaitu Soeshyant  yang bernama Astvat Ereta.

AGAMA NON ARYA

Agama non-Arya memiliki asal usul yang berbeda. Diantaranya Taoisme dan Confusius yang berasal dari Cina dan Shinto yang berasal dari Jepang. Pada dasarnya mereka bukanlah suatu agama melainkan hanya sebuah sistem etika. Atau boleh dibilang lebih menonjolkan sisi etika daripada sisi keagamaannya.


ARTIKEL TERKAIT :

0 Dalang Dibalik Serangan Teroris WTC 11/9 2001

Mungkin ini terlihat usang untuk memuat kembali peristiwa WTC 11/9 2001, tetapi karena ini sangat penting untuk meluruskan fitnah terhadap umat muslim, tak ada salahnya jika dimuat kembali.

Setelah peristiwa WTC 11 September umat Islam mengalami fitnah yang sangat besar akibat segelintir oknum umat Muslim, yang mana dari banyak sumber menyebutkan ini adalah rekayasa Amerika sendiri. Nah untuk membuktikan siapa yang mengebom World Trade Centre, coba anda simak Video berikut sampai seri ke 13 (akhir)

0 Agama Sikh, Identitas Baru Dari Pengaruh Hindhu Dan Islam

Agama Sikh adalah agama non-Semit dan non-Vedic. Agama Sikh merupakan agama terbesar ke 6 di dunia. Ada yang menganggap Agama Sikh cabang dari agama Hindhu. Agama Sikh didirikan oleh Guru Nanak pada akhir abad 15M. Didirikan di Punjab “berarti tanah dari 5 sungai”, sebuah daerah antara Pakistan dan barat daya India. Guru Nanak lahir dari kasta Ksatria Hindhu tetapi sangat dipengaruhi oleh Islam secara kuat.

Sikh boleh jadi sebagai bentuk kembalinya para Ahli Kitab yang disatu sisi kembali pada kemurnian Tauhid tetapi disisi lain masih memegang entitas mereka sebagai orang Hindhu. Atau dengan kata lain Sikh sebagai Hindhu yang telah ter-Islam-kan, tetapi memilih jalan sendiri tidak sebagai Hindhu dan tidak sebagai Muslim. 

Kata “Sikh” berasal dari kata “Sisya” yang berarti “Murid atau Pengikut”. Sikhisme adalah agama dari 10 Guru, dimana Guru pertama adalah Guru Nanak. Guru kesepuluh dan yang terakhir adalah Gobind Singh. Buku suci Sikisme bernama “Sri Guru Granth” yang juga disebut “Adi Granth Sahib”.

Setiap Sikh dianjurkan memakai 5 tanda yang merupakan ciri khusus mereka sebagai Sikh. Yaitu : Rambut tak dicukur (Kesh), Sisir untuk menjaga kebersihan rambut (Kanga), logam untuk pengekangan diri (Kada), Belati untuk pertahanan diri (Kirpan), Celana panjang lutut yang khusus untuk kelincahan (Kacca).


Difinisi konsep Ketuhanan dalam Sikh bisa didapat dari “Mulmantra” yang merupakan kepercayaan fundamental dari agama Sikh, yang tersebut dalam permulaan “Sri Guru Granath Sahib”.

Disebutkan dalam Sri Guru Granath Sahib, Vol. 1 Japuji, ayat pertama : “Hanya ada 1 Tuhan yang dipanggil “Yang Benar”, Pencipta, bebas dari rasa takut dan benci, abadi, tak lahir atau dilahirkan, ada dengan sendirinya, Besar dan penuh belas kasih”.

Di agama Sikh memerintahkan pemeluknya melakukan monoteisme langsung. Sikh percaya hanya pada satu Tuhan Maha Kuasa yang tak termanifestasi (berujud) dalam bentuk apapun yang dinamai “Ek Omkara”. Ek Omkara memiliki beberapa nama antara lain :

Kartar = Pencipta
Akal = Abadi
Sattanama = Yang Suci Nama_NYA
Sahib = Pangeran/Tuan
Parvardigar = Pemberi Harapan
Rahim = Penuh Kasih
Karim =Penuh Kebajikan

Agama Sikh juga tidak mengakui Avataravada atau konsep Avtar bahwa Tuhan menjelma manusia dan juga tak percaya doktrin Inkarnasi. Dan melarang memuja Berhala.

Guru Nanak sangat dipengaruhi banyak oleh “Sant Kabir”, dimana beberapa Bab dari Sri Guru Granth Sahib berisi bait-bait dari Sant Kabir yang jumlahnya bisa mencapai 500 ayat. Satu yang terkenal dari kumpulan Puisi Dohe milik Saint Kabir yaitu :

“Dukh mein sumirana sabh karein
Sukh mein karein na koya
Jo sukh mein sumirana karein
To dukh kaye hoye?”

Dalam masa kesusahan , Tuhan diingat banyak orang tetapi ketika damai dan bahagia tiada manusia yang menginga-NYA. Jika Tuhan diingat pada waktu yang indah dan bahagia, mengapa masalah harus terjadi?

Bait diatas memiliki kesamaan dengan AL-Quran sebagai berikut : [QS 39:8] Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan ni’mat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdo’a (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”. 

Menurut cerita Sant Kabir lahir sekitar tahun 1398 M. Dikatakan dia ditemukan oleh seorang Muslim benama Niru (Nimra)  dekat Danau Lahara Tara dekat kota Varanasi. Meski ada mitos ditemukan diatas daun Teratai di kolam Benaras sebagai bayi suci tanpa dilahirkan. Kemudian dia diadopsi dan diajar secara tradisional. Dia diberinama “Kabir” yang berarti “Satu-satunya yang besar”. Setelah besar dia memiliki bakat religi dan puisi.

 

Kabir yang seorang Muslim ingin sekali menjadi murid dari Ramanand. Tetapi karena Ramanand seorang Hindhu hal itu agak susah bagi Kabir untuk mendapat ijinnya. Tetapi sejak Kabir memanggil Ramanand “Rama” yang mana hal itu dilakukan pertama kali dengan mengageti Ramanand yang hendak melakukan ritual mandi pagi di pemandian, jadilah Kabir muridnya.

Itulah mengapa Saint Kabir juga mempercayai Atman dalam Hindu (Veda) sebagai Tuhan yang impersonal (tak berwujud) dan menentang pemujaan berhala. Dia menganggap semua manusia sama dan sistem Kasta adalah sebuah kesalahan. Dia berpendapat bahwa Guru yang benar dapat dicapai secara langsung. Sehingga mencapai Tuhan dengan perantaraan semisal Nyanyian, Kekerasan atau sejenisnya adalah sia-sia. Tetapi pemahaman ini mungkin agak terlalu satu sisi karena sebenarnya selain dengan cara langsung (semisal Shalat), untuk mencapai Tuhan juga bisa dengan sedekah, zakat dan sejenisnya. Dimana dalam Islam yang sejati keduanya sangat terkait.

0 Memahami Konsep Agama Tao dan Konfusius

Pada artikel ini aku coba memahami jati diri dari agama Tao dan Konfusius. Apakah kedua ajaran ini ada sisi-sisi nilai ilahinya?. Jadi sekiranya ada yang keliru mohon dimaafkan.

Periode antara tahun 550 SM sampai 200 SM dalam sejarah dikenal jaman klasik, yang melahirkan “ratusan filsuf”, antara lain: Konfusianisme, dan Taoisme. Meski secara umum kita memandang masyarakat China dalam ibadat dan keyakinan terpengaruh ajaran dewa – dewi dan berbagai bentuk berhala, tetapi mari kita mencoba mencari kemurnian dalam ajaran mereka.

Kong Hu Chu (Konfusius) bersabda “Aku bukanlah pencipta melainkan Aku suka akan ajaran-ajaran kuno tersebut” . Disini kita bisa memahami bahwa sebenarnya Kong Hu Chu bukanlah pencipta pertama dari ajaran Konfusius. Tetapi ada ajaran-ajaran sebelumnya. Jika anda selesai membaca artikel ini bisa kita simpulkan bahwa Kong Hu Chu atau Tao juga tidak lepas dari pengaruh Nabi Ibrahim (Baca Disini)

Di Agama Konfusius juga dikenal adanya rukun iman dimana Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian), merupakan urutan pertama dalam 8 rukun iman mereka. Dan kemungkinan ajaran murni Konfusius juga monotheisme sejati. Apa yang berkembang saat ini sudah mengalami beberapa perubahan. Diantaranya adanya konsep dewa-dewi.

Di dalam literatur-literatur klasik Cina, kata Taoisme pertama kali ditemukan di dalam tulisan-tulisan Shi Chi (catatan -catatan sejarah) yang ditulis oleh Ssu-ma Ch’ien (145-867 BC), yakni empat ratus tahun setelah kematian Lao Tzu. 

Jika kita membaca tentang Tao kita bisa merumuskan bahwa di dalam Tao terdapat ajaran “Etika Hidup” dan juga ada ajaran “Ke-Tuhan-an” yang samar. Boleh dibilang Tao merupakan hasil perenungan dan pemikiran dari pendiri agama tersebut yaitu Lao Tzu. Tao ibarat perjalanan Lao Tzu dalam mencari Tuhan.

Disinilah perbedaan mendasar antara agama Tao dan agama lainnya khususnya agama Semit. Agama Semit merupakan agama yang mana Wahyu Ilahi diturunkan atas para nabi. Sedangkan Tao lebih dari pencarian agama sejati oleh seseorang yang bernama Lao Tzu, dimana petunjuk ketuhanan tidak diturunkan dari Tuhan tetapi didapat atas hasil pencerahan, seperti yang Budha lakukan. Yang mana bisa kita simpulkan bahwa jika kita bersungguh-sungguh mencari Tuhan dengan perenungan akal maka pada akhir pemikiran apa yang kita dapatkan akan sama dengan apa yang Tuhan ajarkan.

Lao Tzu dalam perenungan dan pemikirannya menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini mengandung dua unsur yang saling berlawanan, dan setiap unsur yang berlawanan tersebut saling tergantung satu sama lain. “Sebab Akibat” 

Dalam Metafisika Taoisme, Lao Tzu yang merupakan pendiri Tao menganggap bahwa Tao adalah “sumber umum bagi seluruh alam semesta”. Tao sebagai “asal usul yang unik dari dunia”. Lao Tzu secara eksplisit mengatakan “ Tao menghasilkan yang satu, yang satu menghasilkan yang dua, yang dua menghasilkan yang tiga dan yang tiga menghasilkan sepuluh ribu hal lainnya.

Yang Satu (The one), menghasilkan yang dua dimana yang dua ini meliputi sisi feminin dan maskulin (Yin & Yang/ Positif & Negatif). Yang tiga merupakan kesatuan antar Yin dan Yang. Dan dari yang tiga (Yin & Yang) menghasilkan sepuluh ribu hal lainnya yang mana dari yang tiga inilah merupakan asal mula alam semesta menurut versi Taoisme.


Lao Tzu sangat yakin, bahwa Tao bersifat universal. Segala sesuatu berasal dari Tao, dan merupakan pengembangan dari Tao itu sendiri. Tao, dengan demikian, juga merupakan proses yang bersifat universal dan prinsip tertinggi. Ini adalah ontologi yang paling mendasar dari Taoisme. 

Tao juga memiliki sifat yang misterius. Lao Tzu menulis “Kita memandang Tao”, “tetapi tidak melihatnya… kita mendengar Tao tetapi tidak mendengarkannya…Kita menyentuhnya tetapi tidak menemukannya… Bergerak ke atas, tetapi tidak terang, dan bergerak rendah ke bawah, tetapi tidak gelap. Tidak terbatas… dan tidak bisa diberikan nama apapun.“ Tao tidaklah bisa dimengerti dengan akal budi dan panca indera manusia, tetapi Tao itu adalah nyata adanya (real being). Tao berada di level yang melampaui pengetahuan biasa yang diperoleh melalui intelek manusia. 

Dari paparan diatas kita peroleh :
  1. Yang Satu (The One) = Tao
  2. Yang Dua (Yin & Yang) = Firman
  3. Yang Tiga (Kesatuan Yin & Yang) = awal alam semesta
  4. Segala sesuatu berasal dari Tao
  5. Tao tak bisa dipahami (tak ada yang setara) tetapi Tao ada
Jika kita perhatikan 5 paparan diatas, maka bisa kita baca bahwa itu merupakan Konsep Ketuhanan hakiki yang dimiliki oleh setiap agama besar. 

Seperti telah dijelaskan pada awal artikel bahwa Tao merupakan cara Lao Tzu dalam menemukan Tuhan. Tao dapatlah diketahui melalui intuisi, dengan pengajaran dan pembelajaran dari hari ke hari. Untuk menyadari keberadaan Tao, orang haruslah bergerak melampaui kemampuan kognitif mereka. Pengenalan atas Tao membutuhkan lebih dari sekedar „ketrampilan kognitif biasa yang dimiliki oleh orang pada umumnya. Sehingga kita bisa melihat Surga dalam hidup di dunia.

Meski begitu ada perbedaan mendasar mengenai Konsep Tao ini. Lao Tzu mengatakan :
  1. Tao bergerak secara alami dan spontan.
  2. Tao tidak memiliki kehendak ataupun tujuan.
  3. Manusia”, demikian Lao Tzu, “mendapatkan modelnya dari bumi, bumi dari surga, surga dari Tao, dan Tao dari spontanitas.
  4. Tao “menyelesaikan tugasnya, tetapi tidak mengklaim kredit darinya. Tao memberikan pakaian dan makanan kepada semua hal tetapi tidak mengklaim menjadi penguasa atasnya.
  5. Tao selalu bergerak tanpa keinginan…
  6. Segala sesuatu datang kepadanya dan Tao tidak menguasainya;”
  7. Tao bergerak secara alami. Akan tetapi, Tao bukanlah seperti Tuhan yang menciptakan dunia dengan tujuan tertentu.
Dari 7 paparan diatas tampak jelas perbedaan antara ajaran Tao dan ajaran agama Semit dan Vedic. Ajaran Tao memandang Tuhan (Tao) sebagai sesuatu yang spontanitas, apa adanya tanpa keinginan sesuatu melainkan apa yang terjadi dengan sendirinya. Sedangkan dalam agama Semit dan Vedic Tuhan (Tao) sebagai yang Maha Menguasai dan Maha Berkehendak. Dari sini tampak jelas sekali bahwa Tao merupakan hasil pemikiran dan bukannya wahyu Tuhan.

Di dalam Konfusianisme oleh Kong Hu Chu (551 SM – 479 SM) , Tao adalah prinsip umum yang mengatur moralitas , sementara Te adalah keutamaan individual. Akan tetapi, bagi Lao Tzu, Tao adalah realitas yang paling utama sekaligus prinsip umum dari alam semesta. Sementara, Te adalah partikularisasi dari Tao yang terwujud dalam diri seseorang, ketika ia hidup sesuai dengan Tao. Te adalah kekuatan baik dari luar atau dalam Tao yang menyelimuti segenap aspek di alam raya ini. Jadi Te pada hakikatnya identik dengan Religiusitas (yang bersifat ilahi) dalam sesuatu baik manusia atau makhluk lainnya.

Ada sebuah dasar pengandaian etika Taoisme yang merupakan Aforisme Cina “Malapetaka adalah sesuatu yang menjadi dasar bagi kebahagiaan; kebahagiaan adalah ketika malapetaka menjadi tersembunyi.” memiliki konsep yang hampir sama dengan Islam dalam Al-Quran Surah Alam Nasyrah 94 :5-6 “Karena sesungguhnya sesudah (didalam) kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah (didalam) kesulitan itu ada kemudahan” 

Untuk memperoleh sesuatu”, demikian Lao Tzu, “adalah perlu bagi orang untuk pertama-tama memberi.”Jadi, untuk mencapai sesuatu, orang harus pertama-tama memulai dengan yang berlawanan dari yang ingin dia capai. Dengan demikian, esensi dari pendekatan Lao Tzu adalah “dengan mulai mengejar tujuan dari titik yang secara diametral bertentangan dengan tujuan itu.” Konsep ini hampir identik dengan Konsep agam Budha bahwa untuk mencapai Nibbana maka diperlukan nafsu.

Tao memiliki beberapa konsep, diantaranya :

Wu Wei = Kelembutan sebagai tujuan utama, dimana kekerasan hidup ini dijalani dengan penuh kelembutan. Hidup mengalir saja tanpa dibentuk hukum atau aturan. Sebagai bentuk pasrah terhadap hidup yang dijalani. Wu Wei lebih bersifat Filsafat Tao.

Yu Wei = Tindakan, bahwa hidup perlu aturan dan hukum. Disini Yu Wei lebih mendekati sebagai Agama Tao

Tzu Jan = Spontanitas. Bahwa hidup ini spontan (alami).Kepercayaan bahwa alam semesta dan kehidupan sosial akan berkembang secara spontan”, demikian tulis Xiaogan, “adalah fondasi dari teori etika wu-wei, sekaligus fondasi dari filsafat Tao.

Dari ketiga Konsep Tao, yang paling utama adalah Wu Wei. Wu-wei sangat menekankan nilai-nilai spesifik, seperti pasivitas, sikap mengalah, dan ketenangan. Menurut Lao Tzu, nilai-nilai ini sangatlah penting, terutama bagi orang-orang yang lemah dan tidak beruntung di dalam hidupnya. Dengan menerapkan wu-wei di dalam hidupnya, orang-orang yang lemah bisa menaklukan orang-orang yang kuat dengan kelembutannya. Inilah keuntungan dari sikap wu-wei. “Hal yang paling lembut di dunia”, demikian Lao Tzu, “dapat melampaui hal yang paling keras di dunia… melalui inilah saya mengetahui keuntungan untuk tidak mengambil tindakan apapun.” Itulah mengapa dalam agama Tao, Hindhu atau Budha para pemimpin agamanya lebih individualistik dan tidak terlalu campur tangan dalam masalah sosial dan masyarakat. Hal ini juga dapat kita temukan dalam ajaran Kristen di Bible sebagai berikut :

Tetapi Aku berkata kepadamu : Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu…Tetapi Aku berkata kepadamu : Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu,” (Matius 5:39-44). 

Islam memadukan Wu Wei dan Yu Wei, dimana kelembutan dan kedamaian merupakan langkah utama yang diambil, tetapi diperlukan Yuwei jika keadaan terancam. Dimana inilah yang disebut Jihad, sebuah bentuk perjuangan membela diri. Bahwa Kita harus membalas jika kita di salahi tetapi jika memaafkan maka itu lebih baik. Misalnya ayat berikut :

[Al-Quran 3:159] Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. 

Tetapi pada kenyataannya Wu Wei dan Yu Wei memang tidak bisa berdiri sendiri. Kita tidak bisa melulu mengalah, tetapi juga harus membela diri. Keduanya saling menyatu, seperti halnya konsep Islam diatas. Lao Tzu bersikap kritis terhadap penguasa pada jamannya, dan juga terhadap nilai-nilai Konfusianisme tradisional. Berpendapat bahwa masyarakat akan jauh lebih baik, jika semua bentuk aturan, moralitas, hukum, dan penguasa dihapuskan. Di sisi lain, para pemuka agama Taoisme sangat menghormati penguasa dan aturan-aturan Konfusianisme. “Orang-orang yang hendak memiliki keabadian”, demikian tulis Ko Hung (284-343), seorang pemuka agama Taoisme, “haruslah menempatkan kesetiaan kepada penguasa dan kesalehan yang tulus kepada orang tua mereka sebagai prinsip dasar. Sedangkan kita ketahui yang namanya Penguasa selalu identik dengan Hukum dan Aturan.

Konfusianisme merupakan konsep hidup yang hampir mirip dengan Islam dimana Wu Wei dan Yu Wei saling berhubungan. Dimana ada aturan yang tegas didalam sikap lemah lembut kia kepada orang-orang yang melanggar aturan dan bersalah. Ajaran utama konfusianisme adalah “yen” dan “li”. Yen secara umum diartikan sebagai cinta, atau lebih luas lagi keramahtamahan. Sedangkan li dilukiskan sebagai gabungan antara tingkah laku, ibadah, adat kebiasaan, tatakrama dan sopan santun. Nilai-nilai lainnya dalam ajaran Konfusius adalah kebajikan dan kebenaran.

K’ou Ch’ien Chih, seorang pemuka agama Toaisme lainnya, juga berpendapat bahwa setiap orang haruslah mempelajari Konfusianisme, serta secara aktif membantu kaisar di dalam mengatur dunia. Dari sini bisa disimpulkan bahwa Wu Wei dan Yu Wei tidak bisa berdiri Sendiri.

Pada prinsipnya Tao lebih condong ke konsep “mengalah” dan Konfusius lebih condong ke konsep penegakan “hukum dan aturan”. Surah Al-Quran 3:159 diatas jika ditafsirkan lebih mendalam merupakan inti dari kombinasi ajaran Tao dan Konfusius.

 

Bucu-Bucu Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates