Sebab, pleural effusion adalah akumulasi cairan di antara lapisan jaringan yang melapisi paru-paru dan rongga dada. Pada kondisi normal, tubuh menghasilkan cairan pleura dalam jumlah kecil untuk melumasi permukaan pleura, jaringan tipis yang melapisi rongga dada dan sekitarnya dari paru-paru. Kelebihan cairan ini menjadikan kondisi abnormal.
Menurut dr. Boy Zaghlul Zaini D.K., pleural effusion disebabkan peradangan paru-paru yang diakibatkan penyakit lain. ’’Yang paling sering, peradangan itu diakibatkan penyakit TBC. Selain itu juga bisa disebabkan penyakit lain. Yakni gagal jantung, pengerasan hati, gagal ginjal, dan penyakit lainnya yang bisa menyebabkan cairan di pleura,” terangnya.
Boy menambahkan, gejala pada pleural effusion biasanya penderita akan mengalami sesak napas yang makin lama kian parah. Kondisi ini tidak lain akibat cairan di pleura yang terus bertambah.
’’Untuk bisa mengetahui apakah seseorang benar-benar menderita pleural effusion harus dirontgen. Dari sana dapat diketahui apakah ada cairan di pleura yang bersangkutan,” ungkapnya.
Dijelaskan, kebiasaan tidur di lantai atau terkena angin malam pada dasarnya merupakan penyebab penyakit pleural effusion. Tetapi, kondisi seperti itu bisa membuat tubuh rentan terserang penyakit TBC. Dan penyakit inilah yang dapat memicu pleural effusion.
’’Untuk penyembuhannya harus dilihat terlebih dahulu penyebab penyakit pleural effusion itu sendiri. Setelah itu, baru penyakit penyebabnya dapat diobati, dan secara bersamaan juga dilakukan penyedotan cairan yang ada dalam pleura itu. Cara penyedotannya juga dilakukan secara beratahap. Tidak bisa sekaligus. Cairan itu bisa berwarna putih bening, putih keruh, dan juga berdarah,” ujar Boy.
Sementara untuk pencegahan penyakit ini, lanjut dia, cukup simpel. ’’Jangan banyak begadang, jauhi angin malam, serta jangan tidur di lantai dan kasur tipis. Selain itu juga kita harus menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari,” terangnya. sumber
